Wednesday, 3 April 2013

Hari ke-2 : Sokcho City, Gwongeumseong Fortress dan Sinheungsa Temple - Seoraksan National Park

<<Hari Ke-1

Senin, 25 Maret 2013, Jam 04:30 tapi mata masih saja susah untuk diajak melek, rasa kantuk yang berat membuat saya masih bermalas malasan di tempat tidur. 30 menit berlalu terpaksa harus bangun, karena harus segera check-out dan langsung menuju ke MRT Station untuk menuju express bus terminal. kurang lebih 40 Menit perjalanan dari Hongik University Station ke Express Bus Terminal Station.

Karena semua barang di tas backpack sudah rapih, maka saya pun sudah tinggal membawanya segera setelah saya cuci muka dan sikat gigi. Menikmati sarapan didalam Guesthouse, walaupun dilarang tapi karena hanya mengkonsumsi makanan ringan saya rasa tidak masalah selama tidak membuat kamar kotor karena sisa makanan. Menu hari itu hanya dengan mengkonsumsi Oat cookies, roti coklat dan susu UHT ukuran kecil, lumayan untuk menambah tenaga dari pagi sampai siang hari. Semua makanan makanan tersebut dibawa dari jakarta karena sepertinya saya akan selalu dikejar dengan waktu yang sangat terbatas sehingga sarapan dengan menu yang simple sudah pasti diperlukan. Sarapan disediakan gratis di guesthouse tetapi baru tersedia jam 7 pagi itu pun kita harus menyiapkan sendiri.

Jam 05:45 meninggalkan guesthouse, karena checkout terlalu pagi sehingga tidak ada orang sama sekali yang melayani check-out, karena Mr.Young tidak tinggal di dalam Guesthouse. Untungnya Mr. Young menyediakan telepon dan Nomor telepon yang dapat dihubungi, memang sengaja ditinggalkan untuk para penghuni guesthouse jika ada keperluan dengan dirinya bisa langsung menelepon. Setelah menghubungi beliau saya segera bergegas keluar dari guesthouse menuju MRT Station dengan berjalan kaki kurang lebih 5 menit.

Pagi hari udara di luar guesthouse sungguh dingin sekali, untungnya sudah memakai baju yang tepat sehingga udara dingin yang begitu menusuk tulang tidak terasa terlalu dingin. Suasana di sekitar guesthouse terlihat sepi, hanya petugas kebersihan yang terlihat sedang menyapu jalan, tetapi beberapa restoran terlihat ramai dikunjungi orang, mungkin karena restoran tersebut 24 jam.

Tujuan MRT Station saya adalah Express Bus Terminal station, memakan waktu perjalanan kurang lebih 40 menit dari Hongik Station. Saat tiba di station tersebut saya langsung melihat penunjuk arah untuk menuju "Express Bus Terminal".



Waktu sudah menunjukkan jam 06:23 segera menuju loket pembelian tiket bis, untungnya saya sudah survey kemarin malam sehingga memudahkan saya menemukannya. Perjalanan saya menuju kota Sokcho, Jam berangkat paling awal adalah jam 06:30, namun sungguh disayangkan waktu saat sampai diloket pembelian tiket waktu menunjukkan jam 06:31 hanya terlewat 1 menit dari jam 06:30, pelayan yang menjual tiket di loket pun sudah tidak menjual tiket untuk jam tersebut. Akhirnya saya pun harus rela menunggu 1,5jam untuk naik bis yang berikutnya yang akan berangkat jam 08:00. Sebagai catatan untuk saya dan yang membaca blog ini, bahwa bis di Seoul benar benar menghargai waktu sehingga telat 1 menit pun mereka tidak akan menerima pembelian tiket lagi mungkin agar penumpang mendapatkan kenyamanan dan ketepatan waktu tiba di tujuan.

Tiket Seoul ke Sokcho pun sudah dibeli untuk keberangkatan jam 08:00, harga tiket sebesar 18.100 Won atau sekitar Rp. 163.000. Perusahaan otobus yang digunakan bernama Dongbu Express, informasi lengkap tentang PO Dongbu Express ada disini dan daftar kota kota tujuan di korea beserta tarif bis Express bisa lihat disini. Tiket dibeli di loket 1st Class, di tiket yang telah kita beli tertera jelas Tanggal dan jam Keberangkatan, Nomor kursi, Nama PO, dan Platform. yang harus kita perhatikan selain jam adalah nomor platform, kita harus mencari nomor platform atau nomor tempat pemberhentian bus. Tiket saya menunjukkan  platform nomor 17, sehingga harus menunggu di ruang tunggu yang dekat dengan platform tersebut.


Jam 07:55 bis Dongbu Express sudah tiba di platform nomor 17, Supir segera membukakan pintu masuk bis dan bagasi, lalu turun untuk memeriksa karcis bagi penumpang yang akan naik karena tidak ada istilah kondektur di korea, mungkin kondektur itu hanya ada di Indonesia sepertinya.. hehe. Setelah masuk, saya langsung duduk di kursi baris pertama, saya lupa bahwa di tiket ada nomor kursinya. Tetapi karena sudah terlanjur duduk dan tidak ada yang mengklaim di kursi tersebut akhirnya tidak pindah. Jumlah penumpang hanya sekitar 7 orang saat itu, saya pikir akan menunggu penumpang lagi ternyata tidak. Supir bus segera masuk kedalam bis dan memerintahkan kepada seluruh penumpang agar mengenakan sabuk pengaman dan sepertinya dia juga menghitung jumlah penumpang, setelah selesai dan waktu pun sudah menunjukkan tepat pukul 08:00 bis pun langsung berangkat. Agak terkejut, karena baru kali ini menaiki bis yang jumlah  penumpangnya sedikit tetapi bis tetap jalan tanpa menunggu perlu menunggu bis penuh. Mungkin karena mengalami beberapa pengalaman  di jakarta yang tidak seperti itu dimana waktu masih bisa di "Negosiasi".

Platform bis di Seoul Express Bus Terminal

Keadaan didalam bus terbilang nyaman, walaupun kursinya terdapat sandaran kaki tapi menurut saya tidak se "Excellent" yang dibayangkan tetapi cukup nyaman untuk di tumpangi. Dengan formasi kursi 2-2, dan didalamnya disediakan hiburan TV satelit. Sebelum berangkat di layar TV LCD tersebut di Informasikan bahwa bis akan tiba di tujuan Sokcho Express Bus Terminal jam 11:12, lama perjalanan sekitar 3jam. Saat ditengah perjalanan bis akan berhenti di sebuah tempat peristirahatan selama 15menit, bagi para penumpang yang ingin ke toilet dan membeli makanan di persilahkan. Makan didalam bus dipersilahkan selama sampah tidak dibuang sembarangan didalam bus.


Perjalanan Seoul ke Sokcho berjarak sekitar 190 KM, selama perjalanan di suguhkan pemandangan yang cukup menarik. Setelah 2 Jam perjalanan, tiba tiba salju mulai terlihat di luar, sepertinya hari ini akan terjadi hujan salju. Untungnya salju tidak sampai terjadi badai tetapi terlihat cukup banyak salju yang turun saat itu dan belum juga berhenti saat saya tiba di Sokcho Express Bus Terminal.

 


Jam 11:05 sampai di Sokcho Express Bus Terminal, lalu saya keluar terminal untuk mencari Tourist Information Center yang berada tidak jauh dari terminal tersebut. Saya bertanya kepada staff yang ada disitu untuk mengetahui dimana letak halte bus lokal yang terdekat dari posisi saya berada saat itu. Ternyata letak halte bus tersebut tidak jauh, dengan hanya berjalan kaki (jangan menyeberang jalan) dan dihujani oleh salju saya menuju halte tersebut. Bentuk halte sudah berubah, tidak seperti yang saya lihat waktu searching info di beberapa blog.



Sampai di halte bus saya mencari bus No. 1 atau 1-1 atau 7 atau 7-1 untuk menuju ke Hostel. Hostel saya bernama The HouseHostel yang berada di daerah dekat Suboktop (수복탑), Untuk menuju ke tempat yang disebut suboktop ini agak sulit, karena selain patung yang disebut sebut sebagai tanda suboktop sulit terlihat karena pandangan saya pun tergangu karena tertutup hujan salju. Tarif bus sebesar 1.100 Won atau sekitar Rp. 10.000 untuk jarak dekat, dan ingat uang pas harus disiapkan karena harus memasukkan uang di kotak yang disediakan saat kita naik bis.


Saya bertanya letak Suboktop kepada seorang pria yang kira kira seumuran dengan saya, sayangnya saat ditanya dia ternyata tidak bisa berbahasa inggris. Walaupun tidak bisa berbahasa inggris tetapi ternyata orang tersebut antusias membantu mencari alamat tersebut dan berusaha dengan semampunya menjelaskan menggunakan bahasa inggris yang "standard" dicampur dengan bahasa korea, Untungnya juga saya membawa tulisan hangeul yang di print di kertas serta peta menuju hostel. Akhirnya orang tersebut memberhentikan bus di sebuah halte yang mungkin disebut sebagai daerah Suboktop. dan ternyata tidak jauh dari halte tersebut terlihat gedung dari kejauhan bertuliskan "The House Hostel" yang berada diseberang jalan. Saya pun berterima kasih kepada orang tersebut karena dia sampai rela turun dari bis untuk membantu saya mencarikan alamat. Sungguh menjadi pelajaran berharga, ternyata masih ada yang masih mau membantu orang yang tidak dikenal dengan kendala bahasa juga tapi tetap dilakukan dengan ikhlas. Cukup menyeberang jalan, dan jalan sekirar 100 meter saja untuk menuju hostel tersebut. Saya mengingat tempat ini patokannya GS-25 yang ada di depan jalan besar sebelum  ke sebuah jalan kecil yang akan menuju hostel. Jarak dari GS-25 ke hostel mungkin hanya sekitar 100meter saja dari jalan besar.


Sekitar jam 11:45 tiba di hostel, saya membayar kekurangan uang sewa hostel sebesar 40.000 Won atau sekitar Rp. 360.000. Saya menginap di The HouseHostel selama 2 hari karena memilih beberapa trail/course di Seoraksan National Park yang tidak bisa ditempuh hanya dalam waktu 1 hari. Setelah check-in pemilik hostel memberikan sebuah peta kota Sokcho yang lengkap dengan info tempat tempat wisatanya. Dengan ramah Mr.Yoo pemilik hostel memberikan saran tempat tempat yang dapat dikunjungi di sekitar Sokcho. Setelah selesai mendengarkan petunjuknya saya pun langsung menuju kamar. Kamar yang ada di househostel tidak ada dormitory, jadi hanya bisa memilih "basic private ensuite". Lumayan untuk sebuah kamar murah dengan beberapa perlengkapan seperti TV, Penghangat badan dan Kamar mandi di dalam kamar. Informasi tentang the house hostel bisa dilihat disini. Melalui website tersebut kita bisa melihat informasi hostel dan reservasi, tetapi saya reservasi tidak melalui website hostel tersebut tetapi melalui hostelworld.com.





Jam 13:00 setelah selesai membereskan barang barang didalam kamar dan sedikit makan snack untuk mengganjal perut langsung keluar Hostel untuk menuju Seoraksan National Park. Dengan menaiki bis lokal No.7 atau 7-1, Karena hanya 2 bis ini yang akan berhenti di halte terakhir persis di dekat Pintu masuk Seoraksan National Park, tarif bis sebesar 1.100 won atau sekitar Rp.10.000,-. Kita harus menyiapkan uang pas karena uang harus dimasukkan kedalam kotak yang disediakan sebelum menaiki bis. Lama perjalanan dari hostel menuju ke Seoraksan National Park sekitak 40menit.

Sekitar jam 13:40 sampai di halte pemberhentian terakhir, dengan berjalan kaki kurang lebih 50 Meter untuk menuju loket pembelian tiket masuk. Harga tiket masuk kedalam Seoraksan National Park sebesar 3.500 won atau sekitar Rp.32.000,-.

Seoraksan National Park "Tiket Masuk"
Tidak jauh dari tempat pembelian tiket atau didalam area Seoraksan National Park ada sebuah hotel yang bernama "Seoraksan Tourist Hotel", pasti bertanya tanya kenapa saya tidak menginap disini saja apalagi berada di dalam area Seoraksan National Park. Jawabannya sudah pasti adalah karena harga sewa nya yang mahal. Harga sewa per kamar nya sekitar Rp.600.000 dan menurut saya hostel tempat saya menginap masih layak untuk dipertimbangkan dan tentunya jauh lebih murah. Mungkin keuntungan menginap di "Seoraksan Tourist Hotel" kita tidak membayar tiket masuk lagi, karena memang berada didalam area Seoraksan National Park. Dengan harga tiket masuk tidak terlalu mahal, sehingga tidak ada alasan pentinf harus menginap di hotel tersebut. Tetapi bagi yang membutuhkan berminat menginap disini dan membutuhkan info "Seoraksan Tourist Hotel" bisa klik disini

Seoraksan Tourist Hotel

Cuaca saat itu masih terbilang banyak hujan saljunya, karena saya tidak membawa sarung tangan sama sekali dari jakarta, dan juga udara semakin lama semakin dingin mengharuskan saya membeli sarung tangan. Harga sarung tangan 3.000 won atau sekitar Rp. 27.000,-. Tidak jauh dari tempat pembelian tiket ada sebuah toko yang menjual berbagai macam perlengkapan mendaki di musim dingin, tetapi dengan harga yang relatif tidak mahal kita bisa menebak kualitasnya kurang dapat diandalkan.

Trail/Course yang saya ambil untuk hari ini adalah "Gwongeumseong Fortress" dan "Sinheungsa Temple", untuk mengakses puncak dari Gwongeumseong Fortress harus menggunakan Cable Car. Berikut ini denah beberapa Course/Trail di Seoraksan National Park yang dibuka untuk umum.


Untuk menuju Cable Car Gwongeumseong Fortress berjalan melewati patung beruang, lalu belok kekiri terlihat bangunan yang didominasi kaca, disanalah station untuk keberangkatan Cable Car.



Station Cable Car
Didalam Cable Car

Harga tiket Cable car adalah 9.000 won atau Rp. 81.000,- untuk tiket PP. Lama perjalanan menggunakan cable car untuk menuju puncak Gwongeumseong Fortress kurang lebih 10 menit.


Tujuan Cable Car Gwongeumseong Fortress







Sayangnya puncak dari Gwongeumseong ini hampir semuanya tertutup salju, sehingga sulit sekali jika ingin naik ke puncak tersebut. Padahal dari puncak tersebut pemandangan nya sangat bagus sekali.

Puncak Gwongeumseong tertutup Salju

Puncak Gwongeumseong bersih dari Salju (Sumber:Visitkorea.co.kr)
Berada di Gwongeumseong Fortress tidak terlalu lama hanya sekitar 1jam saja, menikmati salju yang terus menerus turun...  maklum di Jakarta kan emang gak ada salju jadi gak ada salahnya norak dikit... =D hehe...
Setelah puas menikmati indahnya salju, saya kembali kebawah dengan menggunakan Cable car lagi. Trail/Course berikutnya adalah Sinheungsa Temple, sebenarnya ini bukan trail utama karena kuil ini sudah pasti dilewati jika kita akan menuju ke Biryeong falls, Ulsanbawi dan Hendeulbawi dan beberapa course/trail lainnya. 

Sinheungsa Temple adalah kuil Budha yang berada di Seoraksan National Park, Kuil ini dibangun pada tahun 590 oleh Jajangyulsa. Kuil ini dulunya bernama HyangSeongSa. Menurut catatan sejarah kuil ini pernah mengalami beberapa kali pengrusakan dan akhirnya dibangun kembali. Yang terkenal dari kuil ini adalah adanya patung Budha raksasa yang terbuat dari perunggu setinggi 14.6 Meter dengan berat 108ton. Kalau dari pintu masuk Seoraksan National Park kuil ini bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki 10 menit saja.

Tempat untuk membeli dupa bagi yang akan sembahyang


Tidak jauh dari patung Budha tersebut kita dapat menjumpai Kuil Sinheungsa.



Setelah melihat lihat disekitar Sinheungsa Temple cukup lama kini waktunya balik ke hostel, sebenarnya Itinerary yang saya buat setelah Sinheungsa Temple ada menuju ke Biryeong Falls tetapi karena salju yang semakin tebal dan juga air terjun nya gak bakalan ada karena tertutup salju maka terpaksa harus dibatalkan.

Sebelum balik ke hostel saya mencari makanan yang cukup mengenyangkan dan sedikit menghangatkan badan. Persis dekat Seoraksan Tourist Hostel ada beberapa restoran restoran yang menjual berbagai macam makanan khas Korea, tetapi saya memilih yang tidak menggunakan daging seperti mie ramen. Semangkuk besar mie ini dijual cukup mahal yaitu 5.000 won atau sekitar Rp.45.000,-. Mie ramen dengan potongan Nori/Rumput laut cukup mengenyangkan perut. Selain ramen pelayan restaurant juga menawarkan kimchi secara cuma cuma. Kimchi adalah menu khas korea yang pasti ada setiap kali menyantap makanan, Kimchi terbuat dari sayur sayuran yang di fermentasi dan diolah sedemikian rupa. Rasa dari kimchi ini agak kecut tapi segar bila dimakan. Maka dari tak heran diberikan secara cuma cuma karena kimchi memang makanan wajib bagi orang korea.



Selesai menyantap semangkuk ramen, waktunya pulang. Seperti sebelumnya saya menuju ke Halte bus yang berada di luar pintu masuk Seoraksan National Park. Cukup lama sekitar 10 menit menunggu bis datang, jangan lupa menyiapkan uang pas untuk ongkos bis ini sebesar 1.100 won. Bila ditanya oleh supir bus bilang saja Suboktop, karena memang di daerah itu saya berhenti. Bis hanya berhenti sebentar menunggu penumpang lalu segera berangkat lagi, saat itu hanya cuma sekitar 4 orang termasuk saya yang naik bis tersebut. FYI jangan lupa saat naik bis harus masuk dari pintu depan dan keluar dari pintu tengah. Didalam bis terdapat tombol alarm untuk memberhentikan bis letaknya dekat jendela dan jumlahnya banyak, Supir bis tidak akan mau berhenti jika bukan di halte bus walaupun kita sudah memencet alarm tersebut dan juga jangan dadakan memencet tombol jika mau berhenti di sebuah halte, pastikan jauh jauh sebelum halte kita akan turun sudah memencet tombol sehingga supir tidak akan berhenti secara mendadak.

Sekitar jam 18:00 sampai di hostel beristirahat sebentar lalu mandi, karena badan juga sudah capek sehabis mandi saya langsung tertidur pulas, ketika bangun jam sudah menunjukkan pukul 21:00. Perut tiba tiba keroncongan akhirnya saya keluar hostel menuju GS25 untuk membeli roti yang agak besar seharga 2.000 won (Rp. 18.000,-) dan air mineral seharga 800 won (Rp.7.200,-), menu sederhana untuk menghemat biaya.. hehe... Sesaat setelah makan seperti biasa facebookan untuk upload foto foto melalui tablet menggunakan free wifi hostel. Tidur kembali jam 23:00 karena besok saya akan menuju ke Ulsanbawi pagi pagi sekali, dan kabar baiknya menurut pemilik hostel esok harinya tidak akan ada salju karena hari ini adalah salju terakhir di sokcho.

SAMSUNG Galaxy Tab 2 10.1 Espresso 16GB - White [GT-P5100ZWAXSE]
Total Pengeluaran untuk Hari - 2 (dalam Rp.) :

Keterangan Pengeluaran (Rp.)
Express Bus Seoul - Sokcho Rp. 163.000
Local Bus No. 7-1 ke Hostel Rp. 10.000
Bayar Guesthouse Rp. 360.000
Local Bus No. 7-1 ke Seoraksan Rp. 10.000
Tiket Seoraksan Rp. 32.000
Tiket Cable Car Rp. 81.000
Local Bus No. 7-1 ke Hostel Rp. 10.000
Roti dan air mineral Rp. 25.200
TOTAL : Rp. 691.200

Tuesday, 2 April 2013

Hari ke-1 : Airport Incheon, Gyeongbokgung Palace, Gwanghwamun Square dan Cheonggyecheon River


Sehari sebelum keberangkatan saya telah mempersiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan untuk trip ke korea kali ini kedalam sebuah tas backpack berukuran 65liter. Mengingat suhu di Korea saat itu masih sekitar 0 - 3 derajat Celcius, makanya saya membawa beberapa perlengkapan seperti baju yg agak tebal, Jaket anti angin, kaos kaki, kupluk, baff outdoor dan tidak lupa obat obatan seperti tolak angin, obat flu dan demam, obat diare dan plester luka. Mengapa obat-obatan? Karena berada di suatu negara yang kondisi cuaca nya berbeda dengan di negara kita maka obat obatan itu sangat penting, dimana kondisi tubuh kita pastinya tidak terbiasa dengan cuaca yang jauh berbeda, penyakit Flu dan diare sering sekali menjadi penyakit langganan.



Memesan bagasi AirAsia adalah keharusan, karena tiket AirAsia tidak beserta bagasi, Saya memilih ukuran bagasi yang paling kecil yaitu 15 Kg. Walaupun penerbangan AirAsia tujuan Jakarta - Seoul adalah connecting flight atau penerbangan tersambung, tetapi untuk urusan bagasi tetap harus membeli masing masing rute. Yaitu penerbangan Jakarta - LCCT dan LCCT - Incheon. Sebagai catatan penerbangan AirAsia regular dengan AirAsia X memiliki biaya yang berbeda untuk urusan Bagasi, ini dikarenakan AirAsia X adalah penerbangan jarak jauh.

Sebagai perbandingan bagasi AirAsia Regular dengan AirAsia X:
Bagasi 15 Kg dari Jakarta - LCCT Kuala Lumpur  Rp.105.000,-
Bagasi 15 Kg dari LCCT Kuala Lumpur - Incheon Rp. 165.000,-

Dua jenis bagasi yang memiliki ukuran sama tetapi berbeda tarif, saran saya kalau memang cuma membawa barang sedikit sebaiknya gunakan backpack ukuran kecil sekitar 40 Liter sehingga tidak perlu memesan bagasi karena masih bisa dimasukkan dalam kabin pesawat.


Saya selalu membawa timbangan digital ini untuk mengukur berat tas, berguna sekali saat pulang bepergian baik dari luar negeri maupun dalam negeri, karena biasanya bawaan kita selalu lebih berat dibandingkan saat kita berangkat karena banyaknya barang barang belanjaan atau oleh oleh untuk keluarga dan teman.

Hari Sabtu 23 Maret 2013 adalah keberangkatan saya ke Korea, tetapi saya harus masuk kantor sebentar karena sesuatu hal dan setelah itu langsung menuju pusat perbelanjaan ITC Mangga Dua untuk menukarkan Won Korea. Saya menukarkan uang sebanyak 480.000 Won atau sekitar Rp. 4.320.000,- sebelumnya sudah menukarkan sebanyak 105.000 Won. Jadi total uang yang dibawa sekitar 585.000 Won atau Rp.5.265.000,-



Bagi yang mau menukarkan uangnya, di mangga dua banyak sekali Money Changer yang menawarkan rate cukup murah. Waktu itu mengecek di beberapa Money Changer terkenal di daerah Gajah Mada, Gunung Sahari dan Kwitang mereka rata rata menjual Won Korea Rp.9,4 - Rp. 9,8 untuk 1 Won, tetapi di mangga dua dijual dengan harga Rp.8,9 - Rp.9,0 per 1 Won. Mungkin saya rekomendasi Sahabat Valas, lantai 3 ITC Mangga Dua, ga bermaksud promosi ya... cuma di tempat ini yang paling ramai dan paling bersaing nilai tukarnya.

Jam 15:30 saya berangkat dari Terminal Kampung Rambutan menuju Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Menggunakan bus Damri dengan tarif Rp.25.000,- + Biaya Peron Terminal Rp.1.000 ("Katanya"). Bis Damri yang ada sekarang lumayan lebih bagus bila dibandingkan beberapa tahun yang lalu. Dengan disediakannya free wifi di dalam bus menjadikan bis ini layak untuk digunakan sebagai alternatif transportasi murah dan nyaman menuju ke bandara. Informasi SSID wifi disediakan didalam bus beserta passwordnya.

Jam 16:30 sampai di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta,  langsung menuju ke dalam gedung terminal untuk menyerahkan Bagasi di Counter "Drop Baggage". Karena sebelumnya saya sudah check in via web,  jadi tidak perlu check in lagi hanya menyerahkan bagasi saja, tetapi tetap saja namanya antrian untuk menyerahkan bagasi tetap ada, malah beberapa orang masih banyak yang kelebihan berat bagasi sehingga harus membongkar dan mengurangi isi tas nya dan tentunya hal ini memperlambat proses penyerahan bagasi. Setelah menyerahkan bagasi kita harus membayar Airport Tax untuk penerbangan Internasional sebesar Rp.150.000,- per orang. Sebagai tambahan karena penerbangan saya adalah "Connecting Flight" jadi saya serahkan print boarding pass dua duanya baik yang Jakarta - LCCT dan LCCT - Incheon dan beritahu staff bahwa penerbangan kita adalah Connecting Flight karena tas kita yang masuk bagasi akan diberikan tanda stiker khusus seperti dibawah ini:


Jam 17:00 saatnya menuju ke Imigrasi, seperti biasa antrian sudah panjang, untung saat ini sudah tidak menggunakan NPWP lagi untuk mendapatkan free fiskal, karena sekarang biaya fiskal sudah dihapuskan. Flashback beberapa tahun yang lalu saat masih menggunakan NPWP untuk mendapatkan free FISKAL saja harus membawa Copy NPWP + Paspor dilampirkan beserta aslinya dan yang pasti proses ini juga mengantri sehingga banyak sekali membuang waktu sebelum sampai di Imigrasi yang memang terkenal paling panjang antriannya. Kalau tidak mau mengantri free fiskal maka diharuskan membayar biaya fiskal sebesar Rp.2.500.000,- (Dua Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) lumayan kan biayanya, Makanya banyak orang yang rela mengantri demi mendapatkan free biaya fiskal tersebut. Jadi inget saat itu banyak yang rela daftar ke kantor pajak hanya untuk mendapatkan NPWP demi mendapat free fiskal tersebut, karena saat itu banyak sekali promo penerbangan murah ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia sehingga orang banyak yang tertarik untuk pergi ke luar negeri.

Jam 17:30 menuju ruang tunggu, pesawat boarding jam 18:30 karena pesawat AirAsia yang akan saya tumpangi adalah penerbangan yang berasal dari Singapura mengalami keterlambatan, sehingga berimbas kepada mundurnya waktu keberangkatan saya sehingga penerbangan saya pun harus di re-schedule hingga jam 19:15

Jam 19:15 pesawat berangkat, dan sampai di LCCT Kuala Lumpur jam 21:00 waktu Jakarta atau jam 22:00 waktu Malaysia. Keluar dari pesawat kita menuju ke terminal kedatangan LCCT dengan berjalan kaki, sesampainya di Gedung Terminal kita belok Kiri ada petunjuk tulisan "TRANSFER INT'L" / "Transfer Antarbangsa". Ingat, Jangan jalan lurus naik eskalator, karena itu akan menuju Imigrasi. Kita tidak perlu ke  Imigrasi ataupun khawatir tentang bagasi kita, karena mereka (pihak AirAsia) akan mengaturnya. Yang perlu kita lakukan setelah belok kiri menuju ke Loket Transfer Antar bangsa, sebelumnya ada pemeriksaan X-RAY untuk tas dan bawaan kita, setelah itu perhatikan Tanda tulisan di loket, pilih loket yang bertanda "AIRASIA X" bukan "QZ/AK/FD". Serahkan passport dan boarding pass penerbangan lanjutan, waktu itu  saya menyerahkan boarding pass dari LCCT ke Incheon. Setelah itu kita akan diberikan boarding pass baru seperti gambar dibawah.


Segera Jalan menuju Gate yang tertulis di boarding pass tersebut dan kita tinggal menunggu di tempat yang telah disediakan. Suasana terminal LCCT saat itu cukup ramai walaupun waktu sudah larut malam.


Penerbangan saya berikutnya jam 01:00 dini hari, tetapi sudah masuk pesawat sekitar jam 00:00 dini hari. Nah makanya saya sampai di Incheon itu lebih awal setengah jam dari yang dijadwalkan karena pesawat lepas landas sekitar jam 00:30 atau lebih awal setengah jam dari yang dijadwalkan.

Kuala Lumpur ke Seoul ditempuh selama kurang lebih 6 jam 20 Menit. Lumayan agak lama dan melelahkan, tetapi karena memang sudah malam saya pun tertidur lelap selama penerbangan berlangsung. terbangun dari tidur kira kira satu jam sebelum mendarat, itu pun karena saya ingin buang air kecil... hehe.


Tapi ada satu hal yang terlewatkan disini, ternyata saya tidak diberikan kartu kedatangan atau "Arrival Card" dan "Custom Declaration Card" oleh flight attendant / pramugari  AirAsia, mungkin karena saat sedang diberikan saya sedang tertidur lelap. Sewaktu menuju toilet ternyata dekat dengan suatu ruangan kecil untuk pramugari, yang kebetulan disana terlihat ada "Arrival Card" dan "Custom Declaration Card"  langsung saja saya memintanya. Segera setelah dari toilet saya mengisi arrival card tersebut, o iya jangan lupa selalu membawa pulpen saat kita keluar negeri karena ini termasuk barang yang lumayan diperlukan untuk mengisi arrival card dan sejenisnya.


Minggu 24 Maret 2013 Jam 07:55 waktu Seoul (GMT +8), saya sampai di Incheon International Airport, suasana airport terlihat tidak begitu ramai. Tampilan didalam airport sekilas tidak begitu mewah bila dibandingkan Changi Airport. Mengingat ini adalah airport terbaik No.3 setelah Changi di Singapura dan HKIA di Hongkong.

Handphone blackberry saya nyalakan saat sampai di gedung terminal, dengan menggunakan kartu XL tetap bisa mengakses blackberry di korea, dengan mitra roaming operator XL adalah KT (Korea Telecom) atau OLLEH. Promosi XL pascabayar seperti free Internet akses/ Blackberry selama 1 hari di Korea dan  hari berikutnya berbayar Rp. 25.000 unlimited. Syaratnya kita juga harus sudah berlangganan di Indonesia salah satu paket tersebut  (Internet Hotrod 3G+/ Blackberry Unlimited). Terus terang promosi ini sangat membantu berhemat untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman di Indonesia baik menggunakan Whatsapp maupun BBM, karena telepon dan sms jelas tidak digunakan sama sekali untuk menghindari biaya roaming yang mahal.

Untuk menuju ke area Kedatangan Penumpang/Arrival kita akan melalui eskalator horizontal yang lumayan panjang dan banyak, lalu dilanjutkan menggunakan Shuttle Train, sejenis Sky Train milik Changi Airport. Setelah tiba di Area Kedatangan/Arrival saya langsung menuju ke Loket Imigrasi, proses imigrasi di Korea mengharuskan kita scan Fingerprint 2 jari telunjuk kiri dan kanan dan Foto wajah setelah itu tentunya petugas imigrasi memberi Stample di Visa kita. Setelah proses imigrasi selesai langsung menuju ke "Baggage Claim" / Pengambilan bagasi. Tidak lama kemudian tas backpack saya keluar dari ban berjalan langsung segera mengambil dan keluar dari area tersebut. Serahkan kartu "Custom Declaration Card" yang telah diisi ke Petugas saat keluar dari area pengambilan bagasi.

Tujuan pertama langsung menuju ke Seoulwise Guesthouse di Hongik, saya lebih memilih menggunakan AREX atau Airport Express yang langsung terintegrasi dengan Metro Subway atau Seoul MRT. Ada 2 jenis AREX disini yaitu Express dan Non Express/Commuter. Untuk AREX yang Express tidak berhenti di beberapa station, karena berangkat dari Incheon Airport langsung menuju ke pemberhentian terakhir Seoul Station (yang terkoneksi MRT Line 1,4 dan Gyeongbu Line), karena saya akan berhenti di Hongik University Station maka saya memilih yang Non-Express/ Commuter AREX.


Sumber: TripAdvisor

Gambar diatas adalah Gate berwarna biru jika kita ingin menggunakan Express AREX dan di sisi sebaliknya untuk yang AREX Non-Express/Commuter tandanya Gate diberi warna Orange.
Gambar diatas adalah Tiket AREX dan slip pembelian tiket yang dapat dibeli di depan gate menggunakan mesin otomatis, pilih menu berbahasa inggris dan pilih stasiun tempat kita berhenti. Jangan khawatir jika tidak punya uang pas, karena kembalian akan dikeluarkan di mesin tersebut. Tarif sampai di Hongik University Station sebesar 4.450 Won atau sekitar Rp.41.000 perjalanan ini memakan waktu sekitar 50 menit.

Sekitar jam 09:30 saya sampai di Hongik University Station, sesuai petunjuk Guesthouse bahwa saya diharuskan keluar di EXIT nomor 2 untuk menuju hostel. Sebelum saya menuju hostel saya teringat harus membeli T-Money (Kartu MRT "Multiple Journey"), karena jika membeli "Single Journey" Tiket yang hanya untuk sekali pakai pasti banyak membuang waktu, karena kita harus meluangkan waktu untuk membeli tiket dan refund tiket.  Jika lancar mungkin gak terlalu berpengaruh tapi kalau harus mengantri panjang di mesin tiket otomatis tentunya banyak merugikan waktu kita. Sebagai info tambahan tempat saya menginap "Seoulwise Guesthouse" menyediakan T-Money untuk dipinjamkan bagi yang tidak ingin membeli kartu ini, kurang tahu harus berapa biaya sewa kartunya, karena saya sengaja membeli tiket ini untuk disimpan sebagai kenang kenangan ... hehe.

T-Money banyak dijual di beberapa convenience store/Minimarket seperti GS-25 ataupun 7Eleven dengan harga 3.000 Won atau sekitar Rp. 27.000 dengan keadaan kartu kosong/ tanpa isi. Untuk mengisi bisa dilakukan di stasiun MRT menggunakan mesin otomatis. Petunjuk isi ulang kartu bisa dilihat di link berikut


Tips: Jika bingung dengan petunjuk menuju hostel yang hanya berupa peta 2 dimensi, saya biasanya menggunakan google maps dengan fitur map 3 dimensinya dimana kita bisa langsung melihat tempat tujuan secara virtual sehingga membuat kita lebih familiar dengan tempat tersebut dan tidak membingungkan saat mencari lokasi hostel di lokasi sebenarnya.


 

Seoulwise Guesthouse, inilah nama tempat tinggal saya. Guesthouse ini sangat mudah dicari dan dekat dengan stasiun MRT. Mr. Young  pemilik guesthouse ini orangnya sangat ramah. Waktu itu saya tiba jam 10:00 pagi dan waktu check-in tentunya masih lama tetapi beliau sudah mengijinkan check-in. Kondisi guesthouse yang bersih dan nyaman ini membuat kita betah tinggal disini. Pada saat masuk guesthouse kita diharuskan melepaskan sepatu atau sandal dan menggantinya dengan sandal yang disediakan. Setelah menyelesaikan sisa pembayaran sewa guesthouse sebesar 19.800 won atau sekitar Rp.180.000 saya langsung membawa tas ke kamar.

Sebelum menuju kamar Mr.Young memberikan petunjuk menggunakan berbagai alat alat rumah tangga yang ada di guesthouse. Karena ini adalah guesthouse maka semua perabotan rumah tangga tersedia (seperti Dispenser, Coffee Maker, Microwave, Mesin cuci dan lainnya) untuk digunakan seluruh penghuni guesthouse secara bersama-sama. Kamar yang saya gunakan berada dilantai 2 dan merupakan kamar dormitory yang berisi 4 orang (Mixed dormitory), kebetulan saat itu penghuninya hanya baru saya saja jadi berasa private room ... hehe. beginilah kondisi didalam kamar. Seoulwise guesthouse memiliki website sendiri disini dan facebook fanpage disini.




Jam 10:30 langsung bergegas menuju ke Gyeongbokgung Palace, Istana kerajaan Korea yang merupakan salah satu destinasi wajib bagi para turis yang berkunjung ke Korea. Saat hendak keluar guesthouse, Mr. Young menyarankan agar tidak mengunjungi semua Palace/Istana karena menurutnya semua nya sama saja dan mungkin akan membosankan. Dia menyarankan hanya mengunjungi palace yang terkenal saja yaitu Gyeongbokgung dan sisa waktunya bisa mengunjungi Bukchon hanok village. Memang bagi saya membosankan mengunjungi istana kerajaan seperti ini, karena rata rata mirip mirip seperti Forbidden City di Beijing, tapi bagi yang tertarik dengan sejarah korea mungkin hal ini tentunya tidak membosankan bahkan sebaliknya.

Saya membeli Kartu Multiple Journey atau T Money di GS25 yang kebetulan dekat dengan guesthouse dan mengisinya di Hongik University MRT Station senilai 50.000 won atau sekitar Rp.450.000,- mungkin agak kebanyakan waktu mengisinya karena saya pikir kalau isi 10.000 tidak cukup dan harus mengisi lagi jika kehabisan, lalu 30.000 won ditolak karena uang saya pecahan 50.000 won karena mesin ini tidak bisa mengeluarkan kembalian, makanya saya pilih 50.000 saja sekalian. Sebenarnya bisa kalau mau isi 30.000 won kalau punya pecahan 10.000 won sebanyak 3 lembar, tapi harus 3 kali proses isi ulang kartunya. Sampai sekarang dikartu T-Money saya masih sisa sekitar 18.000 won, jadinya mubazir... hehe

Gyeongbokgung palace, untuk menuju ke tempat ini menggunakan MRT dari Hongik University Station Transfer di Euljiro-3(sam)-Ga Station lalu berhenti di Gyeongbokgung Station, lalu keluar di Exit 5.  Jalur keluar subway di Exit 5 ditandai dengan nuansa terowongan ala kerajaan Korea.

Hari ini sepertinya akan menjadi hari tanpa dokumentasi. Ternyata saya tidak membawa memory card untuk kamera, alhasil menelusuri gyeongbokgung palace dan mengabadikannya hanya menggunakan kamera dari blackberry saja.

Sebelum masuk Gyeongbokgung palace saya berjalan jalan menelusuri sekitar Gyeongbokgung palace, seperti Cheonggyecheon River dan Gwanghwamun Square. Disana terdapat patung King Sejong yang terkenal sekali karena jasanya memperkenalkan tulisan Hangeul bagi orang korea.




Menikmati Pizza ala Korea di sekitar Gwanghwamun Square, bentuknya seperti bala-bala atau bakwan kalo di Indonesia hanya saja ini bentuknya tipis dan disajikan dengan kuah asam manis seperti kuah empek empek dengan harga yang lumayan mahal 4.000 won sekitar Rp. 36.000,- . lumayan untuk ganjal perut karena dari pagi belum sarapan. Air didalam botol minum pun sudah habis, saya membeli air mineral ukuran 500ml seharga 1.000 won atau sekitar Rp.9.000,- cukup mahal ternyata harga air mineral di korea.


Setelah menikmati suasana di luar Gyeongbokgung Palace akhirnya masuk ke Gyeongbokgung Palace tentunya, saya membeli tiket hanya untuk satu palace saja. Tiket ada dua jenis yaitu tiket gabungan untuk 4 palace dan Kuil Jongmyo (Jongmyo Shrine) seharga 10.000 won atau sekitar Rp.90.000 dan Single tiket hanya Gyeongbokgung Palace saja, sesuai saran Mr. Young hanya memilih 1 palace saja karena memang waktu yang tidak memungkinkan jika harus menelusuri semua palace karena beberapa palace tidak berada di lokasi yang sama. Harga tiket hanya Gyeongbokgung palace saja adalah 3.000 won atau sekitar Rp.27.000,-



Gyeongbokgung Palace menyediakan free tour guide untuk turis, jadwal nya bisa dilihat pada gambar diatas. Tour menggunakan petunjuk suara dengan media player portable + headphone juga disediakan, tapi biayanya saya tidak tahu karena kebetulan saya tidak memfoto informasi harganya.



Saya masuk kedalam palace sekitar jam 13:00, setelah kurang lebih hampir 1,5 jam melihat seisi istana tersebut, saya berpikir harus membeli memory card kamera. Tidak terlihat mall atau toko kamera di sekitar Gwanghwamun Square lalu saya bertanya kepada Mr. Young pemilik guesthouse dimana saya dapat membeli memory card via Email. menunggu sekitar 10menit belum dibalas, karena tidak ingin membuang waktu juga saya putuskan untuk menuju ke Masjid di daerah Itaewon terlebih dahulu.

Seoul Central Mosque adalah satu satunya masjid yang ada di kota Seoul, menurut beberapa orang, masjid ini akan ramai dikunjungi pada saat Shalat Jum'at. Untuk menuju masjid ini sangatlah mudah, setelah sampai di Itaewon Station ambil jalan keluar Exit 3 lalu selanjutnya bisa mengikuti petunjuk peta dibawah ini.


sumber peta Googlemaps

Jalan masuk agak menanjak untuk menuju ke Masjid

Naik ke atas melalui jalan menanjak ini

Seoul Central Mosque

Jam 16:30 kembali menuju ke Itaewon Station, saat perjalanan balik menuju MRT Station saya membeli Kebab yang terlihat begitu ramai antriannya, karena merasa tertarik akhirnya saya membeli kebab tersebut dengan daging Lamb/Domba rasa pedas seharga 5.000 won atau Rp.45.000 rasanya lumayan cuma mungkin memang karena daging domba, bau domba nya agak menyengat.

Setelah melihat blackberry ternyata ada balasan email dari Mr. Young pemilik Guesthouse, menurutnya memory card bisa dibeli di toko buku Kyobo Bookstore di dekat Gwanghwamun Station. Saya bergegas menuju Kyobo bookstore, karena memang letak akses pintu toko buku ini turun kebawah searah pintu masuk menuju subway  Gwanghwamun Station sehingga saya tidak melihat bahwa disini ada toko buku besar padahal sebelumnya sudah melewati tempat ini. Dari depan sekilas hanya sebuah gedung tinggi bernama Kyobo saja yang terlihat. Harga memory card 8GB merk Imation dijual dengan harga 7.900 won atau sekitar Rp.72.000,- sama dengan di jakarta untuk pasaran memory card jenis standard. Sedangkan merk Sandisk dijual dengan harga lumayan hampir dua kali lipat untuk kapasitas yang sama.

Saya membeli air mineral di 7Eleven, kebetulan ada promosi air mineral merk Lotte ukuran 500ml beli 1 gratis 1, dengan harga 700 won, lumayan dapat air minum yang murah. Sekalian mencari makanan karena perut rasanya sudah keroncongan dan jam sudah menunjukkan jam 18:00, sampai akhirnya ketemu KFC. Harga paket KFC burger dengan kentang dan minuman soda ukuran kecil ini rasanya terlalu mahal, 6.500 won atau sekitar Rp. 60.000. Sehabis makan jangan lupa mengembalikan nampan di tempat yang di sediakan serta membuang sampah sisa makanan kita ke tempat sampah, karena di sini tidak ada pelayan yang akan membersihkan meja. 


Setelah kenyang saya menghabiskan waktu disekitar Kyobo bookstore, Gwanghwamun square hingga malam. Sebelum balik ke guesthouse saya survey keadaan di Seoul Express bus terminal yang berada dekat Gangnam area, karena station ini banyak terhubung kebeberapa line subway sehingga agak sulit mencari petunjuk menuju Express Bus Terminal. Dari Gyeongbokgung Station saya langsung menuju Express bus terminal Station yang merupakan Line 3. Setelah melihat beberapa petunjuk menuju terminal, membuat saya  jelas  tentang lokasi Express Bus Terminal dan Loket tempat pembelian tiket. Setelah itu langsung balik menuju guesthouse.

Sampai di guesthouse sekitar jam 21:00 segera beres beres isi tas, karena check-out besok sekitar jam 5:30 harus segera naik MRT untuk menuju terminal bis express.  Selesai berberes segera mandi, lalu rehat sejenak sebelum mata ngantuk lihat facebook melalui tablet, untungnya disediakan free wifi sehingga biaya internet roaming kartu XL saya yang berada di tablet tersebut tidak harus digunakan akhirnya bisa menghemat biaya lagi. Karena Tablet Android pas dinyalakan akan segera terkoneksi dengan internet, makanya segera keluarkan terlebih dahulu Simcard yang ada di tablet agar tidak langsung menyambung koneksi internet roamingnya. Btw di guesthouse ini disediakan komputer yang bisa akses internet untuk digunakan secara gratis. Mata pun semakin lama semakin tidak kuat... hingga memaksa saya untuk tidur. Mungkin kalau di jakarta baru sekitar jam 9 malam, tetapi karena perjalanan hari ini hampir sebagian besar diisi dengan berjalan kaki seharian menjadikan lelah luarbiasa.

Beberapa link yang berguna:
1. Menghitung lama perjalanan Seoul MRT dari satu station ke station lain dengan virtual MRT Map
2. Website resmi Korea Tourism klik disini
3. Informasi tentang Bandara International Incheon ada disini
4. Informasi mengenai Gyeongbokgung palace
5. Harga nilai tukar Won to Rupiah disini
6. Google Maps Peta Korea
7. Download Peta Seoul MRT

Total Pengeluaran untuk Hari - 1 (dalam Rp.) :

Keterangan Pengeluaran (Rp.)
Airport Tax Bandara Soetta Rp. 150.000
Kereta AREX Commuter Rp.   41.000
Bayar Guesthouse Rp. 180.000
Membeli Kartu T-Money Rp.   27.000
Isi T-Money Card Rp. 450.000
Pizza Ala Korea 1 Rp.   36.000
Air Mineral Rp.     9.000
Tiket Masuk Gyeongbokgung Rp.   27.000
Kebab Rp.   45.000
Memory Card 8GB Rp.   72.000
Makan di KFC Rp.   60.000
Air Mineral Rp.     6.300
TOTAL : Rp. 1.103.300

Hari ke - 2>>

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More